HBNA Indonesia

Bagaimana Ekspor Rempah Indonesia di Kala Pandemi?

Data ekspor rempah – Dilansir dari katadata.co.id, kinerja ekspor Indonesia meningkat pesat selama pandemi COVID 19 ini.  Berdasarkan data yang diperoleh dari Kemendag atau Kementerian Perdagangan Indonesia, nilai ekspor rempah sendiri melonjak sekitar 24,3% pada tahun 2020.

Tercatat pula data ekspor rempah Indonesia mencapai nilai 1,02 miliar US Dolar atau sekitar 14,65 triliun rupiah, angka yang cukup fantastis, bukan?

Alhasil, pangsa pasar rempah Indonesia sendiri mencapai 3,8% pada tahun lalu atau menempati rangking pengekspor rempah terbesar di dunia pada peringkat 9.

Untuk jenis rempah yang paling diminati diantaranya adalah :

  • Bunga Pala, dengan pangsa pasar produk secara global yang mencapai 70.6%.
  • Cengkeh dengan kontribusi 48,8 % terhadap pangsa pasar pada tahun 2020.
  • Kayu manis, dengan 14,9%.
  • Pala dengan 10,7 %.
  • Dan Lada dengan 13,1 %.

Untuk pangsa pasar terbesar Indonesia sendiri (2020) adalah Amerika Serikat dengan 160,1 juta US Dolar (15,6%), Tiongkok dengan 129,2 juta US Dollar (12,6 %), Vietnam dengan 114,5 juta US Dolar (11,2 %), India dengan 109,8 juta US Dolar, dan juga Arab Saudi dengan 81,2 juta US Dolar (7,9%).

Dari data ekspor Indonesia diatas, dapat kita simpulkan bahwa Amerika Serikat merupakan pangsa pasar terbesar untuk ekspor rempah tahun 2020.

Alasan Mengapa Rempah Indonesia Diminati

Rempah-rempah Indonesia memang memiliki banyak sekali peminat di pasar internasional. Hal ini dibuktikan karena Indonesia menjadi salah satu negara pengekspor dan penghasil rempah terbesar di dunia.

Hal ini tentunya merupakan hasil dari kualitas rempah ekspor Indonesia yang memang sangat tinggi. Selain,  itu rempah Indonesia juga memiliki banyak sekali manfaat, dapat digunakan untuk berbagai tujuan seperti medis atau untuk kuliner, memiliki rasa dan aroma yang khas, dan juga memiliki karakteristik sendiri.

Rempah-rempah sendiri merupakan bahan yang dinilai memiliki nilai yang cukup tinggi terlebih untuk masakan, untuk upacara keagamaan atau ritual, dan juga untuk kebutuhan medis.

Selain itu, secara geografis rempah juga terbilang cukup langka. Terutama di negara-negara eropa dan negara yang tidak berbasis agraris lainnya. Sehingga mereka membutuhkan pasokan rempah dari negara lainnya, seperti Indonesia.

Hambatan Ekspor Rempah di Masa Pandemi

Di kala pandemi ini, ada cukup banyak hambatan yang terjadi untuk dapat mengekspor rempah. Alhasil, permintaan dan jalur perdagangan tanaman asli Indonesia ini ke sejumlah negara menjadi terganggu.

Seperti yang dikutip dari kadatata, Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kementerian Perdagangan (Kemendag) Olvy Andrianita dalam diskusi online, Kamis (25/6) menyatakan bahwa pandemi Corona atau COVID-19 ini telah mengganggu ekspor rempah Indonesia di luar negeri dan juga mengganggu impor rempah dari negara-negara lainnya.

Pandemi menyebabkan rantai pasokan global atau distribusi ke sejumlah negara menjadi terputus. Produksi rempah Indonesia pun menjadi tidak terserap pasar serta mengalami over supply. Adanya kebijakan kartika wilayah atau yang lebih kita kenal sebagai lockdown juga mengganggu perdagangan rempah. Tak hanya menganggu jalur transportasi atau logistik. Lockdown juga menyebabkan laboratorium pengujian rempah lokal juga ikut ditutup.

Selain hambatan-hambatan karena adanya lockdown ini. Sebenarnya sudah ada banyak sekali kendala yang muncul seperti, rendahnya produktivitas rempah Indonesia, terbatasnya pengetahuan budidaya petani yang berpengaruh terhadap kualitas komoditi ekspor, belum memiliki nilai tambah lantaran masih berupa produk mentah, dan adanya hambatan pelarangan impor di beberapa negara.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Scroll to Top